jawaban buat puisi Gadis Arivia: Mata Hati Kebenaran (kumpulan puisi Yang Sakral dan Yang Sekuler, 2009)
seperti pagi mencintai embun
tanpa kesal pada subuh beku
walupun mendung menyusul siangnya
ia berjalan menuju pesta siang
lupa pagi, lupa kata hatinya
di pinggir ibu yang buta
menadahkan tangannya untuk makan
tak peduli, langkahmu bergulir
ibu mendunduk, perutnya perih
sepuluh tahun, 3000 pagi
tangannya keriput, masih menadah
spanduk kampanye berteriak
monas pagi hati itu
ditelan jubah putih angkara
mana selendangmu
auratmu, suaramu, tutup semua…
ia buka selendangnya…
berjalan di pagi lagi
dengan aurat terbuka dan suara terbuka
march 2009
no sugar
in new year morning
taste the water
tea with nothing
heart thirst
honey drop
from another soul
january 2009
hari pertama di tahun baru
tunggu sinar mentari baru
tak kedip
anak pertama gerutu
sayurnya sedikit saja
tapi, dihari baru ini
matahari tak bagi sinar
sekedip pun
kilauannya yang hangat
atau sedikit debat kata
olin, at new year 2009
: buat ina ata
siang itu pekat
ketika gencar suara meriam
bau mesiu
dan peluh berlarian
seperti siang ini
sambil melamun bersama angin
kibaran rambutmu
menatap teluk kota ambon
kusibak imaji
menutup sisa peperangan
yang menyakitkan
menelan tubuhmu di laut arafura
kemana, ina ata?
kemana angin bertiup
ketika damai masih diawang-awang
ketika harapan damai masih bertatih
dimana, ina ata?
Dimana generasi itu
yang berjuang sampai darah bergelimpang
seperti dirimu…
ambon, agustus 2008, Ina Ata panggilan Christina Martha Tiahahu
terdiam di bawah kubah
rumah kita yang beku
tertutup salju juli
gersang dalam kata
tidak ada yang terucap
atau terungkap
buat lerai hari panjang
sepi dari ujung mejamu
detik berganti menit
berganti jam
masih waktu bertatih
aku, cuma butuh menit
olin, as time stood still, july 2008
di hela napas
detak ciawi
memburu mencari jawab
tentang yang benar
yang tidak benar
yang ada
yang tiada
di hela gumammu
menorehkan lara
tentang generasi
yang beragama
atau merasa beragama
merasa tahu
di sudut jambuluwuk
debat meruncing
tanpa tusukan nyata
sejarah siapa katamu
agama mana tanpa darah
kataku…
olin, ciawi, juli 2008
tenang bersama bisik pagi
di pojok jambuluwuk
hijau semata
di pagi buta itu
beringsut pada sepi
yang letih
karena kemarin panjang
menggayuti kepala
lupa pada hijau
jambuluwuk, ciawi, juli 2008
kasihan dia
perempuan yang berlelah lelah
dalam kemunafikan
kasihan dia
mencari kata di sela amarahnya
pada diri sendiri?
kasihan dia
membabi buta
mencari kambing hitam
kasihan dia
terus dikhianati lelaki
tetap setia
kasihan dia
membusuk dalam kegilaannnya
mencari luka sendiri
olin, agustus, untuk yang suka teror, please stop terorising me, saya sudah tahu siapa kamu
Jangan menduga
Siang itu tak berdarah
Sampai ke dalam relung jiwa
Menggores hati
Menggores semangat
Mematahkan waktu yang sudah lewat
Jangan mengira
Jubah putih bersorban
Hanya melukaimu
Kami pun terluka
Jiwa dan semangat
Seperti gelagap mencari rasa percaya
Jangan menduga
Sakit itu meranggas diwajahmu saja
Di sini juga
Ingin kembali lagi
Menjadi diri
Yang berani lawan kezaliman
Jangan menyimpukan
Hanya satu dua luka
Dikala luka-luka lainnya
Tak terhitungkan
Olin, otw office, june 2008
Biarkan siang itu berubah merah
Seperti darah di keningmu
Mengalir sampai ke jantung
Menutup seluruh jiwa
Dengan kepedihan semata
Biar angin bercerita
Tentang kisah enampuluh hari
Yang menggores lembaran waktu
Bersamamu
Ombak tetap ada
Walaupun perahu
Beringsut pergi
Mencari tenang di balik teluk
olin, cibubur, june 2008