Meniti Angin

To feel and ride the wind…

Archive for February, 2007

dia bilang…

: cerita buat amor dan azra 

dia bilang kemarin…

setengah dari mereka yang kelaparan

tak bisa diselamatkan… banyak anak kelaparan, Amor

….. jangan susah makan ya nak

oleh kebijakan bantuan sekedarnya

dia bilang lagi…

bencana demi bencana datang

dari tangan penguasa sendiri

perusak bumi pertiwi sampai ke uratnya

…. Azra sayang…jangan main disitu nak kotor

dia bilang sambil marah…

musim kering datang merenggut nyawa

siapa mengurus anak-anak kita

bayi-bayi kurang gizi…

… makanan buat anakku apa hari ini?

dia bilang dengan mata berkaca…

13 tahun lagi

penduduk indonesia tigaratus juta

sambil tanah terus membusuk

di jalan, 28th 2007 (untuk bumi indonesia yang nelangsa)

pasti ada

: badai pasti berlalu

katanya empuk dan renyah

dihentakkan ombak putih nan indah

setengah jiwanya melayang

memisahkan diri demi awan-awan

hidup itu pahit, Sis…

tiap hari penuh tanda tanya

penuh cinta dan duka

banjir air mata

tapi hidup toh harus menjadi indah…

seperti menengok sinar pagi lembayung

sambil menghirup angin sejuk malu-malu

seteguk kopi sambil berharap…

hari baru jiwa baru

pasti ada badai di sana

pasti ada di sini …

tapi pasti ada cinta di sana

juga harapan mencinta di sini

cibubur, Jan 27th 2008, enjoy your life for whatever

biarkan

semalam aku salju beku

menjadi kristal dingin berkilat

pagi ini aku embun

mengalir perlahan menggeliat antara klorofom

nanti siang aku kepompong

mengurung diri dari kegalauan sekitar taman

pasti sore aku kupu-kupu

sambil memamerkan warna-warni rona

… menikmati kepahitan dalam kemarakan rasa

pasti malam aku abu

cibubur, Feb 24th 2007,  let me change myself

smile towards the sun

:untuk Zill- e Huma and the women in Pakistan

Let us smile towards the sun

for the new day have come for us

to take our hands

together

walking against the patriarch

the fundamentalist

the violence in the name of holyness

the blood spreading for pathways to heaven

or let us assume

that we could laugh together

for all those vigilantes

who narrow-minded perspectives

have murder they’re own dignity

ripped of our bodies

but not our soul

so let us smile again

towards the sun…

for our hearts

women hearts

women rights

women with goals and hope

women with love

and all the sunshine

to live

embracing us together…

jakarta, Feb 22nd, for those who died for women equality and justice

Story from the other side of the world

the desert you search

under the african sun

tall trees swaying under the blue sky

finally my steps met yours

… yet we have lived for hundred days in the heat

struggle for a drip of water

in between the colorful beads

bright orange in your head

… arms strengthen while breathing

the darkside of the beautiful continent

hidden under trees and leaves

freezing wind sneak through my skin 

… do you know, my friend

child dying for hunger

diseases spreading such flood

… yet we live here still

… look

the african sun is setting down

February 2007, for Selline and Neema (beautiful african women)

Katamu

katamu manis bagaikan tebu

sisakan diri sepotong malu

namun tetap tergaung sampai berabu

menikam kalbu yang kelabu

hang lekir, 21 Feb 2007

Menulis Puisi: Gelisah Politik (Sunyi)

R. Valentina[1] 

Awas

Hari ini aku panah yang lepas

menerabas jalan-jalan kota

menerbangkan debu-debu jalan

mengacaukan tenang daun-daun

menyambar api yang kusematkan di rambut-rambut kota

dan menari diiringi lagu kebebasan

tuhan, bapak, ibu 

-aku ingin membangkang vivian, oktober 1998 

Maka Jika “Hari ini … –aku ingin membangkang”, Membangkanglah Saja… .Dan jika esok aku masih ingin membangkang, maka membangkanglah saja… . 

Tak bisa dipungkiri, membaca sebagai perempuan adalah kesadaran pembaca bahwa ada perbedaan penting dalam jenis kelamin pada makna dan perebutan makna karya sastra. Tentu saja, setiap orang berhak “membaca” sesuai dengan seleranya sendiri. Saya, dengan pengalaman pribadi dan personalitas saya, boleh jadi disentuh oleh bacaan yang satu dan tidak oleh karya yang lainnya.Atau jikalah satu karya yang dituliskan, menyentuh pengalaman personalitas saya dan seorang kawan misalnya, kedalaman, kesan, gugatan, usikannya, belum tentulah sama.. Saya bisa saja menyukai, menikmati karya yang satu, dan kawan yang lain menyukai yang lainnya.Demikianlah saya menikmati puisi-puisi ini. Kala membacanya, saya teringat atau tepatnya diingatkan tentang sebuah peristiwa yang menyangkut pengalaman saya. Pada bacaan yang satu, dahi saya berkerut, pada bacaan yang lain saya dibuatnya tersipu, sedih, tersenyum, atau bahkan berseru “waduh…” Ada banyak hal yang merona dari tiap kata, susunan kata, bunyi saat saya membacanya, dan tentu saja: pengalaman, hidup, pikiran, dan tubuh saya.Bagi kaum feminis, politik memang sebuah domain yang tidak dikotomis dengan domain “tidak politk”. Salah satu prinsip feminisme adalah “personal is political”. Dalam phrase ini terkandung makna yang sangat luas, diantaranya misalnya bagaimana pengalaman-pengalaman dan suara perempuan hadir dalam masyarakat sebagai sebuah upaya politik mengubah relasi yang tidak adil yang menimpa kaum perempuan. Disinilah kita diyakinkan bahwa pengalaman setiap perempuan memiliki kekhasannya sendiri, personalitasnya sendiri. Pengalaman menstruasi, memliki payudara, vagina, setiap perempuan, adalah pengalamannya yang sangat personal. Siapakah yang paling bisa memahaminya, selain dia sendiri?Bicara, menulis, berekspresi, dengan demikian adalah sebuah kerja politik dalam kerangka mengubah struktur yang menindas menjadi relasi yang adil dan setara bagi perempuan dan laki-laki. Perempuan sudah seharusnya merayakan kemerdekaannya sebagai perempuan… membuka pedih……..luka…tawa…tangis…kesesakan demi kesesakan..kegelisahan…, bahkan “naik turun” pengalamannya….Michel Foucalt, filsuf mazhab poststrukturalis, mengatakan bahwa bahasa merangkum pengetahuan tentang dunia. Maka bicara bahasa tidak dapat dilepaskan dari hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subyek dan berbagai tindakan representasi masyarakat. Disadari atau tidak, dalam masyarakat patriarki, pihak perempuanlah yang mengalami kelangkaan kekuasaan (lack of power). Maka untuk memperbaiki struktur masyarakat yang lebih adil, strategi yang harus ditempuh perempuan adalah bicara. Menurut Foucalt, untuk melawan struktur yang ada tidak adil pada perempuan, perempuan harus menjadi “subjek yang berbicara”yang juga berarti “subyek dari pernyataan”. Seperti yang dikatakan feminis Helen Cixous-feminis Prancis, sangat penting bagi perempuan memecah kebisuan teks dengan melancarkan strategi yaitu bicara dan menulis. (Jurnal HerStory, Edisi Maret 2002, Institut Perempuan)Oleh karenanya, bukanlah hal yang mengherankan jika bahkan dalam “kesederhanaan” (baca: “kesunyiaannya”)nya, apa yang dilakukan perempuan bisa diinterpretasikan sebagai “pembangkangan”, “hari ini”. Dengan kata lain, tak apa jika:

 “… .

Dan 

biarkan puisi ini terus menerus menuliskan gejolaknya 

sampai zaman lupa waktu 

lupa…

bahkan sampai aku mati Puisi adalah kehidupanku    

puisi itu hidup!”  “Akulah Puisi”, lulu, 9 September 1993 

Dengan bicara dan menulis, perempuan membangun hidupnya, pengetahuannya, meneguhkan pengalamannya…membangun persaudarian…mempengaruhi dunia…mengubah dunia… membangkang…“… . Des, ceritakan juga gubuk-gubuk tua

Tempat banyak perempuan desa

Dianiaya, dicerca, tak bersuara

Tersiksa batinnya atas nama status istri… aku  juga seorang istri… .” “Teruskan Menulismu”,

olin, februari 2006  Dalam kesunyian saya, tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa kerja empat perempuan yang memilih menamakan mereka sebagai “perempuan bukan penyair” ini sebagai sebuah kerja politik yang “sunyi”. Namun dalam kesunyian inilah kemungkinan besar, setidaknya bagi saya, saya diperkenankan mengundang “hidup” dengan suka cita… .: “… .Di mana kamu… datanglah ke rahimku

dengan suka cita  “Darah Sialan”, oppie, oktober 2004 



Penulis adalah:[1] Feminis, Executive of Board – INSTITUT PEREMPUAN, Dosen Fakultas Hukum Universitas Katholik Parahyangan, banyak menulis di berbagai media massa, termasuk menulis puisi (dapat di search di www.google.com, search: R. Valentina; R. Valentina Sagala; Institut Perempuan). INSTITUT PEREMPUAN: Jl. Dago Pojok No. 85,
Bandung 40135, Telp./Faks. 022-2516378, Email: institut_perempuan@yahoo.com, institutprmpuan@bdg.centrin.net.id

“Tersihir” Biru Hitam Merah Kesumba

Gadis Arivia[2] 

Memang benar bahwa keempat perempuan yang menulis antologi puisi “Biru Hitam Merah Kesumba” bukan penyair mungkin lebih tepat dikatakan “penyihir”.  Mereka Perempuan penyihir yang pandai menyihir dengan kata-kata.  Apa yang hendak mereka sihir?  Mereka mengerubuti dunia untuk disihir menjadi biru, hitam, merah dan kesumba.

Mengapa biru? 

Sebab biru berbicara soal eksistensi perempuan.  Eksistensi perempuan yang “Jangan kasihani aku/Aku baik-baik saja/Bernapas, bermimpi, beradaptasi/Kita jalani minggu, bulan, tahun dengan/Kita maknai dengan cara kita/bukan karena aku perempuan, tapi karena aku/ manusia” (Karena Aku Manusia, Oppie, 1998, hal.8).  Perempuan bereksistensi lewat kata-kata karena dunianya harus diciptakan ulang dengan kata-kata baru maka “sambil berbaring menatap langit…apa kabar/ Ken Dedes/ lapisan imajinasiku menerawang sosoknya/ di pojokan komputer mengetik naskahnya/ jiwaku turut gelisah/Des, ceritakan juga gubuk-gubuk tua/Tempat banyak perempuan desa/Dianiaya, dicerca, tak bersuara/Tersiksa batinnya atas nama status istri aku juga/seorang istri…aku juga/seorang istri/Des, jangan tutup file itu/Mari menulis bersama, Des” (Teruskan Menulismu, Olin, 2006, hal.20).  Apakah yang hendak ditulis oleh perempuan?  Dan mengapa perempuan memilih untuk menulis?  Karena kata filsuf Perancis Jacques Derrida[3], perempuan ingin mendekonstruksi realitasnya, menampilkan suara “yang lain” mengenai kehidupan yang dijalani.  Bukankah kehidupan selalu memakai frame work laki-laki?  Sama pula dengan dunia penyair memakai frame work sastrawan yang sekolahan dengan olahan rasio, kini saatnya memakai frame work istri, frame work manusia perempuan dengan olahan emosi dan mengapa tidak?  Dari olahan ini pula makna aku tersingkap; “’ku terpukau pada sebuah keunikan dan keajaiban/kehidupan/sepotong baris-baris puisi/yang membentuk segumpal daging,/seorang aku..(Puisi Ulang Tahun, Lulu, 1996, hal.34). Seperti yang telah dipaparkan oleh keempat “penyihir” di buku bagian tulisan “Dari Kami”, mereka menyebutkan bahwa pekerjaan mereka sebagian besar telah dikapling menjadi ibu rumah tangga.  Oleh sebab itu, wajar pengalaman kerumah tanggaan dan dunia kekeluargaan menjadi bagian dari pengalaman yang ingin didekonstruksi.  Pengalaman wilayah domestik ini dibuat kaya oleh keempat “penyihir” dengan menampilkan makna baru pernikahan dan anak.  Simak puisi berikut ini: “Maka datanglah kamu membawa seikat cinta/ dan tak lupa pepes ikan serta cincin/ yang terbuat dari semesta…/konde kecil dari rambut keriting, kebaya putih/ dari pasar beringharjo,, bibir yang bergincu…/serta wajah bahagia ayah dan ibu/ di hari kau meminang../ini bukan cerita kartun, ini kisah betulan (Lulu Nikah, Oppie, 2006, hal.30).  Ekspresi tentang anak juga menjadi passion yang kuat; “Mari sini sayangku, Nak/Genggam jariku lalu mimpi/Sampai pagi kita pergi/mengayuh angin menumpang awan (Anak Sayang, Vivian, 2004, hal.28).   Passion perempuan tentang anak, keluarga, suami dan kekasih tidak menghilangkan eksistensinya sebagai perempuan-manusia, tidak pula membuatnya tersesat dan menenggelamkan dirinya.  Malam ini biru/aku mencari diriku/yang hilang dalam bibirmu/dan menemukannya/di pojok-pojok gelap kota/ternyata aku masih bisa pulang (Tersesat, Lulu, 1999, hal.11). 

Mengapa hitam? Namun ternyata makna “pulang” dapat membingungkan perempuan. “Mau ke mana kita, entah mau ke mana…/Ini bukan rumahku, di mana rumahku?/Kamu tak harus pulang, kamu tak pernah pulang/Aku tak harus pulang, aku harus pulang/Aku Cuma perlu sendiri, aku perlu masuk/dan berteman dengan jiwaku lagi/Aku perlu kontemplasi, aku pulang ke rumah jiwaku..(Di sini kita, Di mana?, Oppie, 2003, hal.66).  Hitam berbicara tentang kegelisahan saat menjadi Absurd (Lulu, 1992, hal.58), saat merasakan perih hidup, Kepedihanmu Milikku Juga (Olin, 2003, hal.52), saat ingin marah namun kepada siapa? Marah dan Hormon (Olin, 2005, hal.61), saat berdamai dengan Perempuan dan Gincu; Dua puluh satu lebih perempuan muda/menyumbat mulut lorong/Dua puluh satu kurang lebih umurnya/kota menawarkan terlalu sedikit dan merampas/terlalu banyak (Vivian, 2006, hal.63). Hitam pula yang mengungkap penderitaan-penderitaan perempuan seperti si Midah; midah temanku terdampar di negeri orang/midah temanku cari makan sebagai pembantu/midah temanku pahlawan devisa negeriku/midah temanku badan kecil, bernyali besar/midah temanku pahlawan devisa negeriku/midah temanku…/masih saja ada anjing-anjing, yang menjilatimu/yang mengonggong parau, yang tak punya malu,/mengerjaimu, menipumu, merampokmu,/memperkosamu, mengarang aturan sialan,/sesampainya di tanah air (Terminal 3, Oppie, 2004, hal.46). 

Mengapa merah-kesumba? 

Pada awalnya adalah gairah.  Gairah perempuan untuk “menyentuh” sekelilingnya bukan dengan logika akan tetapi dengan rasa.  Merah-kesumba bercerita tentang cinta.  Cinta bagaimanakah yang didambakan perempuan-perempuan 30-an yang hidup di setting urban?  Cinta memiliki sejarah yang dulu pernah pula dialami oleh ibu-ibu kita.  Mungkin dulu ibu-ibu kita tidak sebegitu beruntung dengan pemberontakan cinta mereka sehingga menjadi otoriter terhadap anak-anak perempuannya; ibumu lari karena tidak mau dikawinkan dengan laki-laki itu/ia lompat ke atas kapal, dan berlayar bersama/sepupunya ke Ambon./Aku lari dari rumahmu, ibu/bukan karena kau mau kawinkan/juga tidak untuk menceraikan diri/dari kita punya keluarga/Tidak usah menangis, Ibu/Mungkin Ibu berharap-harap saya tidak pergi/Tapi tak bisa lagi, Ibu/aku meneruskan ceritamu.(Aku Lari, Vivian, 1998, hal.71).  Cinta adalah candu, candu untuk orgasme, bercinta siang malam, sampai habis tenaga, tempat tidur berbau cinta (Vivian, 1997, hal.78).  Mampukah perempuan urban merumuskan cinta?  Tampaknya sulit; Jatuh cinta memang indah/memelihara cinta itu gerah/putus cinta mau bunuh diri/jadi cinta itu aneh sekali (Mencari Cinta, Olin, 1998, hal.101).   Yang pasti, perempuan-perempuan urban berani menggunakan kebebasan berekspresi, dan bukankah kebebasan inilah yang terus menghidupi cinta?  Bagaimana dengan seksualitas?  Tabu seksualitas diterjang dan dijadikan puisi indah; Terlalu nyaman aku berdiam damai di/ketersembunyianku yang indah…/Merasakan sensasi dan gairah rasa/keperempuananku…/Astaga…aku butuh selimut untuk bersembunyi dari pikiran liarku...(Berubah, Oppie, 1998, hal.86).  Namun justeru pemikiran liar ini lah yang membuat mendesak pikiran untuk kritis pada keadaan sekitarnya seperti;  Selama empat puluh delapan purnama aku terjaga Dari telanjang hingga kubungkus rapat badan ini,

Bersembunyi di dalamnya menjadi orang lain.

Kau paku aku sebagai permaisurimu

Di ranjang yang sesak…lalu kau pinta restu untuk berbagi, karna tak cukup

nafsu kauumbar pada satu bini

atas nama lelaki-halal kau miliki dua tiga

dan empat…

Musikku terasa sumbang, tarianku gagap dan kaku

Aku menghirup udara dari asap dupa

Yang memabukkan,menembus jantung dan paru-paru..

hatiku bernanah, rahimku berkerak tak bertelur,

tak ada bayi yang sudi singgah

 

Lalu semua kurangku menjadi pembenaran

langkahmu…(Cerita Teman, Oppie, 2006, hal.97).

 Mengapa menulis? 

Menulis memberikan jeda antara apa yang dirasakan dan dituangkan.  Jeda ini memberikan keleluasaan untuk menumpahkan pengalaman-pengalaman kaya yang “berbeda”.  Budaya menulis membutuhkan ekstra enersi untuk merangkaikan realitas dengan perspektifnya sendiri, ini berarti berani untuk mengungkapkan karena bagaimanapun juga jejak-jejak telah ditinggalkan untuk ditelusuri kejujurannya.  Budaya menulis sangat berbeda dengan budaya lisan (yang lebih banyak dianut para politisi atau penghotbah), karena kata-kata yang diumbar tidak meninggalkan jejak dan tidak dapat ditelusuri kejujurannya kecuali kalau tertangkap basah.  

Selubung budaya lisan sangat melekat, tertutup rapat oleh aturan “moralitas” sedangkan modus puisi dari awal dituntut untuk terbuka dan cenderung untuk memilih pertanggungjawaban diri, tidak ada sandaran justifikasi pada siapa-siapa (apalagi partai politik atau agama tertentu) semua bersandar pada kekuatan diri sendiri.  Karena tidak ada justifikasi ini lah, para penyair menurut saya terbuka untuk siapa saja, siapa saja yang tidak ingin terbelenggu dan berupaya “menyihir” dunia menjadi lebih baik. Aku menulisMenyita rasa dan perhatian agar bebas lepas

dalam sebuah dunia jiwa

sebabaku adalah sebuah puisi

selalu bernyanyi melaluinya

meredam

meredam

semua emosi yang harus meloncat keluar

menjadi titik-titik kata

dalam lukisan kalimat

panjaang

tak pernah mati 

(Akulah Puisi, Lulu, 1993, hal.22). 



Tulisan dipresentasikan pada: Peluncuran Kumpulan Puisi Perempuan Bukan Penyair, “Biru Hitam Merah Kesumba”, 6 Desember 2006, Pkl. 19.00, Omah Sendok, Jakarta-Selatan.

Penulis adalah: Pengajar filsafat dan kajian feminisme di Fakultas Ilmu Budaya, UI dan pendiri “Jurnal Perempuan”.

Kutipan penulis: Lihat tulisan Jacques Derrida, The End of Book, The Beginning of Writing.

surat demi surat

satu surat, dua surat

lelah aku membukanya

lelah aku menjawab

lelah aku merasakannya

tiga surat, empat surat

seberapa banyak lagi yang harus aku katakan

bukannya kau sendiri menentukan

memutuskan dan menjadikan

lima surat dan enam surat

mari kita sudahi saja

gerhana dalam hidup ini

supaya mentari bisa menyinari…

biarkan surat demi surat lewat

jangan hukum aku lagi

olin, at the madness of office work, 19 Feb 2007

Facing Life

Clock ticking …

Next big thing after Valentine

Cold war between the rain

Silent words flying through your glimpse

Heartbreaking in each minutes

Hours gone by slowly

Another rain hit my head

Invisible tear glaring through my soul

O love how it turns

As year gone by through cities

Shining stars complete my cold heart

Steps shaking into the days

Please stop this feeling

I have fail

Hang Lekir, Feb 16th 2007 (a cold morning indeed)

Older entries »