Meniti Angin
To feel and ride the wind…Archive for May, 2007
kenangan lama
dia panggil nama itu lagi
mencabik ingatanku akan sore di bawah langit
ketika padang hijau di Sumba
dan kerumunan jiwa terluka
berdiam sambil memandang
kupu-kupu keluar dari kepalanya
menghiasi sore kelam yang melelapkan
berlarian antara kemarin dan hari ini
aku terlupa
kini terdengar lagi suara itu
aku terbangun
darah itu membasah lagi
tersayat sampai jantung
olin, cibubur 29 Mei 2007, untuk luka lama yang terkoyak lagi
di ujung musim
daun-daun beri jalan bagi bunga
yang menghindar malas di ujung mei
dari siraman tegas mentari
layaknya kulitku yang mengering
pagi ini badai bermuara di wajahku
memancarkan panasnya di ubun-ubun
berputar di balik punggung
sampai di ujung lidah
kelopak pagi semakin rekah
getir meresapi pandangan mata
kubiarkan badai itu menyiksa
dan ngilu di sekujur hari
olin, cibubur 28 Mei 2007, bertemu flu hari ini
kado ultah dari Indah
Kado Ultah : Lilin Mei
: Olin Monteiro
Pagi sembab, Mei sedu sedan. O, kau disana menghayati tiap derai dengan 36 lilin beku terhampar. O, kau disana menantang hari yang semakin gamang. Dan kau masih disana dengan pena biru melukis Mei muram.
Lalu ku coba susun 36 lilin diatas gurat wajah jalan. Ada garis tegas menjalar, menjadi anak jalan putus-putus, bercabang. Disana terganjal sederet nama dan peristiwa : sebagian membatu, sebagian dikikis angin waktu, sebagian kau rangkai diatas pot warna-warni, manis sekali
36 lilin ku bakar sedapatnya – angin pancaroba membuat segalanya serba susah – hingga persahabatan dirasa hangat.
Aku berkata :
“Malam pasti datang, tapi ini hari masih pagi. Lukisan muram belum kau selesaikan, Mei sungguhlah pucat, menahan perih luka-luka”
Kau berhenti sejenak, menaruh pena diatas kertas, lalu mengambil sejumput kapas sambil berujar :
“Mei harus sembuh total !”
Menteng, 28 Mei 2007
-indah-
sudah di simpan
: jokpin
kusimpan ingatan itu dalam celana
walaupun hanya dalam hitungan menit
kata-kata itu menggores ingatan
menemukan gemanya
olin, 26 Mei 2007, after the launching of mas jokpin new books
di mana?
pagi ini aku kehilangan puisi
di sela-sela kantuk
ribuan roda bergegas membelah jakarta
tumpukan kertas di meja
di mana puisi?
olin, jakarta di akhir Mei 2007
kata-kata tertinggal
kata-kata itu kemarin tertinggal
kucari di kamar-kamar jantung ini
di sela linu pembuluh darah
di lipatan keriput dahi
kata-kata itu menguap
diterpa wangi sabun
siraman mandi sore
meluncur membungkus porselen basah
olin, cibubur 24 Maret 2007, sisa kata-kata
yang hilang
senyum itu bukan milikku lagi
sudah sekian kali aku tagih
tapi ceruk di pipi semakin hilang
kulangkahkan kaki mencari di deru angin
olin, hanglekir, 23 mei 2007
tak ada judul
Sudah kukirim santun sapaan,
tapi kau putar jalan ke Roma.
Hidup bukan sekedar eksistensi,
atau belati di ujung mulutmu.
cibubur 22 Mei, on being exactly 36 years old
hari itu datang
kamu datang lagi
sebagai hari yang dinanti
beserta keriput sudut mata
putih uban menyelinap
keropos gigi tertutup gula
juga jiwa dikikis air mata
sekali lagi
hari itu datang
olin, cibubur 22 may 2007 (at dawn)
renungan [3]
wahai dikau yang katanya pencipta…
belum kusentuh bulan itu
juga mars yang memerah di kejauhan
apalagi dingin cincin saturnus
bumi sudah terengah
meletupkan bisikan kematian
membatukkan tanda-tanda badai
mencairkan salju di kutubnya
Jadi mengapa engkau mencipta?
kalau besok kau gelar tsunami
lumpur deras menimbun
atau gunung memuntahkan laharnya
kuintip bintang-bintang
mereka juga belum kucapai
kuelus bumi tua
yang dijejaki jutaan kaki
olin, otw of, 21 Mei 2007