Meniti Angin
To feel and ride the wind…Archive for November, 2007
pisah sebuah kata yang…
Malam itu pekat, diiringi pekik guntur dengan silau cahaya menyambar menyentuh ujung langit. Aku terdiam, menyambangi tiap detik nafasmu. Senyum itu sudah pupus dari sudut bibir.
“Aku sudah mencoba dan mencoba”, lirihmu menikam di antara petir. Dinding menjadi kelam, menyahuti malam yang tersebar jauh dari teras kita. Kakiku beku dan terpekur. Aku pandang rambutmu yang menjurai manis layaknya air hujan pekat berjatuhan. Aku selalu iri dengan rambutmu yang indah itu. “Tidak mungkin ini dipertahankan lagi,” lanjutmu pelan, tersekat di ujung tenggorokanmu sendiri.
“Sudah dibicarakan betul? Ambil waktu libur berdualah,” kataku setengah memaksa. Harapan menggayut di kerling senyumnya, yang tiba terpaksa sambil menengok langit. “Sudah, bosan aku,” timpalmu lagi. Kali ini, petir-petir berhenti berirama dan suasana sunyi.
Jam dinding sudah lewat pukul 01.00 pagi. Kuraih kopi yang dingin dan berjalan mencari termos air. Rumahku di waktu malam, saat yang paling indah dan penuh permenungan. Inilah saat aku menulis dan atau melamun. Saat terbaik bagi perempuan mencari dirinya di antara kesibukan. Atau jerit tangis anak-anak, di antara tagihan, urusan sekolah, manajemen rumah, kerja dan bahkan hiruk pikuk acara sastra yang berjejer seperti kereta. Kadang 24 jam itu bagai berlarian di depanku, meminta perhatian untuk berhati-hati, sebelum bablas.
“Kamu tahu ngga, Din? Kemarin aku pergi ke acara peluncuran buku Fiona, bagus loh acaranya. Sayang kamu ngga datang. Ada puisi bagus dari buku beliau. Kaget juga aku melihat perkembangan aktifitas dia. Aku sendiri malu memperlihatkan puisiku. Kamu musti bikin buku puisi tuh Din. Sekalian mengalihkan kepusingan kita, sebagai ibu-ibu dengan berbagai kompleksitas hidup ini. Yuk aku bantu, deh,” ceritaku sambil berusaha lucu, walaupun pasti kurang berhasil. Dina tersenyum sambil memegangi cangkirnya. Ah sahabatku ini memang selalu penuh misteri. Dari dulu sampai sekarang. She got everything in her life, yet she’s not happy. Kenapa?
“Jadi menurutmu bagaimana, Sa? Keputusanku soal itu, pisah… aku pusing,” Dina merenggut dan membalikkan topik lagi ke awal. Aku diam dan pura-pura pusing (atau pusing betul). “Bagaimana ya Din? Aku tak bisa memutuskan atau menasehatimu? Aku cuma ingin kamu jujur dan bahagia dengan hidupmu. Kalau pisah itu jadi pilihan terbaik, mungkin itu memang baik bagimu dan Pras. Tapi itu harus kau putuskan sendiri, bukan aku!” tuturku setengah sok bijaksana. “Kasihan anak-anak. Kamu sudah pikirkan caranya menjelaskan ke mereka dan bagaimana masa depan mereka? Pikir dulu deh.”
Dina melamun sambil menikmati jangkrik di depan kebunku yang sepotong itu. Aku membiarkannya lewat dalam pikiran. Kuteringat mama dan papa, juga kehidupan mereka dulu. Betapa mama dulu tidak bahagia dan hidupnya penuh keraguan. Perlu 32 tahun untuk mereka akhirnya berpisah dan menyadari kebahagiaan yang bisa mereka dapatkan, walaupun mereka tidak satu rumah. Akupun bergelantungan dari satu rumah ke rumah lain, seperti nomad, seperti piala trophy bergilir, seperti perahu tanpa pelabuhan tetap, ah seperti apa ya? Pisah… sebuah kata yang bukan pilihanku, bukan hari ini.
olin, potongan cerita, untuk buku terbaru di 2008 (spoiler dikit).
in the temple of Aroon
: free burma
she hail to the wind
up from Wat Aroon temple
wishing for the spirit
under the blowing tide
that rides within burma
the country in rage
the monks in pain
the regime that pervail
she smile
looking at the rainbow
that we draw in sisterhood
I took her hand and we stand in silent…
for ying and zhipora, Bangkok October 2007