Meniti Angin
To feel and ride the wind…Archive for May, 2008
surat untuk malam
Bermalam-malam dengan kelam
Buta rasanya
Mencari cahaya
Dirundung cemburu bulan
Kurasakan rumput basah
Bercengkerama dengan embun dini hari
Menikmati sepi kabut
Lupa amarah pagi
Bermalam-malam dengan pekat
Sendu rasanya
Berbisik dengan terang
Yang sembunyi tertidur
Olin, cibubur 2008, for you and the night
tidur sayang
tidur sayang
di peraduan kasih malam
Biar lupakan
kemilau air danau nan hening itu
Lelaplah bersama angin dan bintang
mimpikan cinta kita
esok
semburat di ujung Timur
cibubur, 01.46, May 20th 2008, please sleep beb
insomnia
dua orang
insomnia
terpisah dari pelukan
sepi memang
malam tanpamu
seperti tepian danau di purnama
hening di pantulan airnya
miris…
cibubur, 01.41, thinking of you and me, May 20th 2008
menjadi ibu
biarlah pagi kembali datang
walau malam mata tak lelap
sekedar memandang wajahmu
senyap dikesunyian rembulan
kemarin hadir seperti kilat
9 bulan lewat
24 bulan berlarian
berkejaran menyapu detik
sore sudah lewat
menyambut malam baru
masih memandangimu dibanjiri sinar pagi
menentramkan ruang batinku sendiri…
olin, cibubur 2008, buat azra
ibu dimana?
Ibu dimana…
berenang-renang aku
di dalam kolam ibu
hangat
detak jantung
aku bahagia
kini kolam menjadi panas
detak jantung berdentam
siap itu…
monster besi menghampiri
aku berlari-lari.. sedih
ibu… ibu…
dia mengejarku
tolong aku
ibu dimana?
olin, jakarta 14 Mei 2008, menanggapi puisi aborsi mba Gadis
manusia sendirian
Sejatinya
tiap manusia itu sendirian
menerkam hawa dingin kehidupan
mencari bayangan ibu dalam impian
menjarah memori orang lain
menikam kata-kata dengan harapan
di musim yang membeku
atau kemilau terang pun
tanpa teman
kecuali kesendirian
kenangan
harapan
untuk bisa bertahan….
respond untuk tulisan Hudan Hidayat, Singa yang Anggun, 13 Mei 2008 (milis Jurnal Perempuan)
tepian kata
Tepian kata-kata itu
Tidak terlempar
Dari sudut bibir
Bertemu kelu, pekat
Seperti kemarin
Di musim semil agi
Kuning warnanya
Menyambut semi baru
Potongannya tercecer
Seperti hatiku
Menyeruak di antara rindu
Dan kata tak berucap
Olin, buat G, 2008
buat ibu ahmadiyah
kemarin senja jatuh
di balik masjid kita
sunyi merona
membilas jiwa-jiwa haus
mencari bentuk tuhan lewat doa
harapan atau impian
di sela hujatan
atas dasar kebenaran
cuma kebencian semata
seperti benih merambat di taman moral
kau kah itu,
yang membakar rumah doa itu
mengharap kami lenyap
memenjarakan jiwa kami
menyusun kata sesat lewat media
memasung anak-anak
dalam tafsir agamamu yang paling benar
yang menyeruakkan seruan tuhan
paling keras
paling suci
sebelum meluncurkan teror
kilauan senjata
penghancuran…
kaukah itu?
olin, cibubur, Mei 2008
tiga lelaki
menikam
begitu katamu
…dia lelaki diam
sekedar memungut kata
merindu
bait pertama di awal jumpa
… dia lelaki sunyi
berjuang dalam riuh
merengkuh
bersama dalam kata
… dia yang patah arang
tak akan pernah mengerti
olin, cibubur, buat beberapa lelaki…2008