Badai di Bulan April
Cerpen: Mega Vristian Sambodo
Pasar Malam Temple, Hong Kong, masih temaram di bawah langit malam Minggu yang makin pekat. Penjualnya berteriak-teriak memecah malam. Merebut perhatian para pejalan kaki agar memalingkan muka ke restorannya. Walau lapar, mata Wanda tetap memandang lurus jalanan. Langkah kakinya makin cepat. ”Aku harus cepat tiba di shelter. Aku tak ingin Yeni melakukan tindakan bodoh,” Wanda menggumam. Masih satu blok untuk menuju ke sana. Jam kecil di pergelangan tangan kirinya menunjuk angka sembilan malam.
Ding! Dong! Wanda yang telah sampai di depan rumah shelter memencet bel.
”Mami…Mami.” Bunga yang membukakan pintu tampak pucat. Napasnya naik turun.
”Kenapa, Bunga? Cobalah tenang sedikit.”
”Yeni…Yeni, Mami!” Wanda berdegup kencang mendengar nama Yeni disebut. Ada penyesalan di wajahnya.
Belum selesai Bunga menjelaskan, Wanda bergegas masuk ke ruang tidur. Disapu seisinya. Belasan wajah di ruang tidur itu sontak memandangnya penuh hangat dan rindu. Seperti anak-anak kecil yang baru bertemu ibunya kembali. Sebagian dari mereka ada yang bangun dan menyapanya. Wanda mencoba sebisanya untuk tersenyum. Hatinya lebih cemas, karena wajah yang ingin ditemuinya tak tampak. Lari ia ke kamar mandi. Nihil. Di ruang makan, hanya ada Warni dan Minah yang sedang makan Indomie.
”Duh, Yeni!” setengah mendesis ia bicara, sambil mengepalkan jemari. Semua wajah yang ditengoknya seperti mengerti, siapa yang sedang dicari Wanda.
”Mami, ia hanya meninggalkan ini,” jelas Minah, yang semula asyik makan Indomie. Ia berdiri mendekat, memberikan lipatan kertas.
”Mami, maafkan aku. Aku tak bisa lama-lama di sini.” Singkat saja isi surat yang tertulis nama Yeni di bawahnya. Ugh! Ada rasa gatal di dadanya. Membuatnya ingin batuk, tapi ditahan. Setengah berlari ia menuju kamar mandi yang kosong. Ia pun membiarkan batuknya berbunyi berkali-kali. Ada cairan keluar dari tenggorokan ke mulutnya. Makin kental kali ini.
Crattt! Cairan yang dimuntahkan ke wastafel lebih banyak darahnya ketimbang lendir batuk. Tidak merah seperti biasanya. Tapi kehitaman. Dadanya semakin nyeri.
”Mami tidak apa-apa, kan?” tanya Minah setelah Wanda keluar dari kamar mandi. Mereka rupanya cemas mendengar suara batuk yang keras dari dalam kamar mandi.
”Aku nggak apa-apa. Terima kasih.” Ada rasa haru di wajahnya yang pucat, ketika Minah berusaha mencari tahu kesehatan Wanda.
”Mami, bajuku iki pantes opo ora ?” tiba-tiba Ratna menyembul masuk ke ruang makan.
”Aku langsung dandan baju turahan sumbangan korban banjir waktu Mami masuk kamar.” Ratna pun berputar-putar seperti peragawati yang sedang mengantuk. Ia mengenakan baju kaos lengan panjang di bagian luar dan baju tidur terusan di bagian dalam. Lengan kiri baju kaos masuk dengan sempurna, sedang sebelah kanannya dibiarkan membalut lehernya yang jenjang, layaknya sebuah syal.
”Modele apik, yo. Onok anti angine.” Diusap-usapnya ”syal” itu oleh Ratna. Mereka bertiga saling bertatapan melihat ulah Ratna.
”Ndhukku, sing ayu dhewe. Bajumu itu bagus. Tapi ini sudah malam.” Dipeluknya Ratna dengan penuh sayang, sambil memberi isyarat kepada Warni dan Minah untuk mengantarnya ke kamar tidur.
”Wis to, Rat. Apik, apik klambimu. Tapi ndak begitu memakainya. Ayo turu ndhisik, kono,” Warni tampak menahan kesal, sambil menuntun Ratna ke kamar tidur.
Wanda memandang Minah, lalu menengok ke belakang lagi mengamati jalannya Ratna dan Warni.
”Ratna masih belum berubah, Mami. Begitu sehari-harinya,” jelas Minah tentang Ratna yang jiwanya sedang terguncang. Wanda menerawang jauh mendengar penjelasan Minah. Sesaat, ia kembali teringat pada orang yang dicarinya. ”Aku tak ingin Yeni seperti Ratna,” gumamnya dalam hati.
”Aku harus mencari Yeni, Minah!”
Setelah berkata begitu, Wanda berlari ke ruang depan. Bunga yang tengah merapikan meja dan kursi hampir tertabrak.
”Mami, sudahlah. Besok pagi ia pasti kembali,” bujuk Minah, agar Wanda mengurungkan niatnya.
”Aku minta maaf, karena Yeni tak bisa kutahan untuk menunggu datangnya Mami.” Bunga tampak menyesal.
”Mami, bukankah tengah malam nanti akan ada badai?” Tiba-tiba Warni sudah muncul ke depan, mengingatkan cuaca buruk.
”Sampeyan juga kelihatan lagi nggak sehat. Istirahat saja dulu.”
Minah terlihat mengkhawatirkan kesehatannya. Sedikit bimbang Wanda. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk tetap keluar, mencari Yeni. ”Ia pasti ke tempat itu,” katanya dalam hati, sambil bergegas membuka pintu depan shelter.
”Mamiii!!!” hampir serentak anak-anak memanggil Wanda untuk mengurungkan niat keluar rumah. Gagal.
***
Jalanan menuju pintu C Stasiun MTR Stim Sha Stim, ingar bingar. Di depan sebuah kafe tampak kerumunan perempuan berpakaian serba minim dengan beberapa laki-laki berkulit gelap seperti dari Afrika, India atau Pakistan. Sebagian dari mereka berpelukan mesra, dengan sebatang rokok di tangan, lalu kadang tertawa cekikikan. Angin yang makin kencang bertiup tak mereka hiraukan.
Wanda telah sampai tepat di gang Chung King Mansion. Jalannya menunduk-nunduk, sambil menutup krah baju, menahan angin. Makin mendekat ia ke kumpulan orang-orang yang tengah bergembira. Diamati dengan seksama sosok tubuh mereka. Yeni tak ditemukan. Tetapi, sayup-sayup terdengar pertengkaran antara dua perempuan di sudut stasiun. Wanda berjalan mengendap dan bersembunyi di balik pohon palem. Salah satu suara seperti dikenal Wanda. ”Mana barangnya? Aku sudah bayar seminggu yang lalu. Kenapa kamu belum hubungi aku sampai sekarang?” perempuan pertama marah-marah.
”Lha, sampeyan itu bukan pelanggan baru. Seharusnya sudah tahu toh, kalau pesan cuma sepuluh butir tidak bisa kuberikan sekarang. Sekali pesan minimal selusin. Bayar lunas sekarang, besok barang sudah di tangan,” sanggah perempuan satunya. Mendengar jawaban ini, perempuan yang semula berang, agak melunak. Berpikir sebentar mencari kata-kata yang tepat.
Angin makin tak bersahabat, hujan rintik mulai turun. Sementara, Wanda yang mengintip dari balik pohon palem, semakin pasti perempuan itulah yang dicarinya.
”Yeni. Kamu nekat sekali,” Wanda berbisik, sambil menunggu waktu yang tepat untuk menegurnya dan membawa pulang ke shelter.
”OK, Novi. Aku mau tambahkan uang itu. Tapi kamu harus berikan malam ini juga, atau kamu kembalikan uangku!” Yeni setengah berteriak karena melawan suara gemuruh angin kencang, sambil memegang erat rambut panjang sepinggulnya dengan kedua tangan ke bagian dada, agar tak dipermainkan angin.
”Hmm. Aku tak bisa memastikannya sekarang. Sebentar….”
Novi lalu menengok ke arah kerumunan orang di depan kafe. Dilambaikan tangannya kepada lelaki hitam tinggi besar. Lelaki itu berlari kecil, mendekat ke arah Novi dan Yeni. Setelah dekat, Novi langsung berbisik kepada lelaki itu. Yeni diam, menunggu kepastian.
Cuaca yang makin buruk membuat batuk Wanda kumat. Padahal sudah sekuat tenaga ia menahannya. ”Uhuk! Uhuk!! Uhuk!!! Wanda kembali merasakan darah kental keluar ke mulutnya. Dibuangnya segera. Di tengah suara gemuruh angin, batuk yang berasal dari seorang perempuan ternyata terdengar oleh Novi, Yeni dan lelaki hitam itu.
Mereka terperanjat karena merasa ada yang mengawasi. Terlebih laki-laki itu. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang amat-sangat, memelototi Yeni dan segera mendekat ke arah pohon palem, memastikan siapa gerangan yang mengintip. Yeni yang tak mengerti mengapa lelaki itu marah kepadanya, membuatnya ketakutan dan lebih dulu berlari ke pohon palem. Melihat itu, Wanda segera keluar dari balik pohon, memberi kode kepada Yeni untuk lari mengikutinya.
Saat bersamaan, hujan turun makin deras, angin bertiup makin menjadi-jadi. Badai hujan dan angin! Kerumunan orang di depannya berlarian membubarkan diri. Tiba-tiba petir menyambar pohon palem dan menumbangkannya. Pohon itu rubuh ke arah lelaki hitam dan Novi. Brakk! Lelaki itu tertimpa batang, Novi tertindih pucuk palem yang hangus. Lidah petir yang menghanguskan dan menumbangkan pohon palem, juga menyengat segala di sekitarnya. Wanda dan Yeni yang telah berlari menjauh pun masih merasakan ledakan petir itu. Keduanya jatuh dan pingsan.
***
Badai hujan dan angin yang disertai petir tadi malam telah berlalu. Penghuni shelter berkurang dua. Bunga yang menjadi ketua piket mingguan, telah menghitung semua teman BMI. Hanya dua puluh tiga kepala.
”Mbak Wanda dan Yeni belum kembali,” bisiknya lirih, dengan sedikit nada cemas. Jam dinding masih menunjukkan pukul 6 pagi. Dirapikannya sudut-sudut ruang depan shelter dengan menyapu. Tiba-tiba suara telepon terdengar. Kring! Kring! Ia berlari mengangkatnya.
”Halo, assalamualaikum, ini siapa?” sapanya ramah.
”Walaikumsalam?” Bunga mengenal suara yang bertanya dan segera menyebut namanya.
”Wanda di mana?”
”Mami pergi mencari Yeni semalam dan sampai pagi ini belum kembali, Mbak Shinta.”
“Aduh, Mbak Wanda ke mana sih. Ada badai malah pergi keluar dan tidak pulang?” Shinta, pimpinan organisasi yang membawahi shelter, terdengar cemas.
”Bunga, kamu dengar tidak berita badai tadi malam?” ia bertanya.
”Belum, Mbak. Kami tidak berani menyalakan TV. Selain menghemat listrik, juga takut rusak karena petir.”
”Ada berita apa ya, Mbak?” Bunga penasaran. Shinta terdiam dan akhirnya pamit menutup telepon.
***
”Yeni, kamukah itu?” tanya Wanda yang terbangun dari sadarnya kepada seorang yang terbaring di sebelahnya.
”Mami ya? Ini di mana?”
”Oh, syukurlah kita selamat. Sepertinya ini di rumah sakit.” Wanda memastikan dengan memperhatikan seisi ruangan dan botol infus di sampingnya.
”Yeni, seandainya kamu mau bersabar menunggu aku di shelter semalam, tentu kita tidak perlu celaka terkena ledakan petir.”
”Aku ingin membawamu ke kenalanku. Temanku akan memberikan konsultasi dan terapi khusus ketergantungan obat. Aku tidak ingin kamu terlambat seperti Ratna.” Yeni diam mendengar uraian Wanda.
”Ratna dan aku adalah korban penipuan Novi. Ia telah menjerumuskan kami untuk tergantung pada ekstasi. Walau sebenarnya, kami juga salah. Aku kapok. Cuma kemarin aku ingin uangku dikembalikan Novi, Tapi….” Yeni tidak meneruskan kalimatnya, karena tiba-tiba pintu kamar dibuka. Muncul Shinta dan seorang suster.
”Aduh, kalian ini. Untung semuanya selamat. Badai signal 8 tadi malam adalah yang terbesar dalam lima tahun ini di Hong Kong. Menelan banyak korban. Dua orang luka parah, kondisinya masih koma. Mereka laki-laki Afrika dan seorang BMI,” kata Shinta sambil memandangi Wanda dan Yeni. Keduanya mendapatkan botol infus dan dibalut perban. Wanda di kaki kiri, Yeni di tangan kanan.
”Aku tidak menyangka kamu juga mengidap paru-paru basah. Ingat usia, Mbak Wanda. Boleh saja menghabiskan waktu untuk membantu teman-teman BMI, tapi sampeyan juga harus ingat kesehatan.” Wanda diam dan berusaha tersenyum kepada pengurus organisasi buruh. ”BMI yang menjadi korban badai semalam apa si Novi, ya?” Yeni bertanya sambil menahan rasa sakit.
”Oh maaf, saya tidak tahu, tapi saya akan segera mencari tahu. Polisi pasti akan mengurus identitas dia.”
Shinta mendekat ke Yeni dan merapikan selimutnya. ”Ya, sudah. Kalian istirahat dulu. Cepat sembuh. Mbak Wanda ditunggu Mutia, ketua koordinator teater, untuk memerankan Ibu Kartini.”
Shinta memandang Wanda dan Yeni bergantian, lalu ke Wanda lagi.
”Walah, Mbak. Mutia ada-ada saja. Badanku seperti Waljinah yang salah jamu ini kok dijadikan Ibu Kartini,” balas Wanda sedikit merajuk. Mendengar ini, Shinta dan Yeni tersenyum geli. (***)
PUISI
Olin Monteiro
kartini, bukan sekadar
: dear kartini
bukan sekadar konde atau kebaya
di hari yang menuntut keberadaan perempuan
di antara cengkeraman iklan komestik
harga dirinya setara produk
bukan sekadar ingin pandai
puluhan anak berjejer di terasnya
menggapai cita menjadi pintar
kartini tersenyum membelai perutnya
bukan hanya menjadi ibu
berjuang sembilan bulan menjaga janin
mahalnya harga sepotong nyawa
kartini pergi bagi sang bayi
bukan hanya sekadar 21 april
ketika perempuan mulai bicara
bagi perbaikan suatu negeri
bukan sekadar mengenang kartini
selamat ulang tahun Ibunda Kartini, terima kasih atas inspirasinya
20 April 2007
Perempuan
ketika rambutnya tersibak bagai lambaian nyiur
irama nan megah turun dari langit kekuasaan
ketika sinar matanya menyapu ruangan
nada berbisik memenuhi atmosfer bumi
… dari rahimnya bermula kehidupan
… dari dadanya tercukupi dahaga
… dari sentuhannya lengkap perasaannya
… dari cintanya jiwa pun runtuh
ketika pagi hujan pujian menyambut harinya
ketika siang hujan tuntutan menghantam di pintu
ketika sore hujan harapan membabi buta
ketika malam hujan lupa membungkus sepi
… dia membawa hidup
… dia dilupakan kehidupan
olin, untuk hari perempuan, interpretasi lagu Woman – John Lennon,
8 Maret 2007
Carolina Monteiro (Olin) lahir 1971 di Jakarta. Ibu dua anak. Mulai menulis sejak SMP. Pernah bekerja dengan SET Filmworkshop membantu pembuatan film dokumenter dan film layar lebar. Sempat bekerja di berbagai LSM Perempuan dan international organizations di Jakarta dan NTT. Peneliti dan konsultan paruh waktu untuk isu pembangunan sosial dan gender. Kini bekerja di GEF SGP Indonesia dan volunteer di RAGAM Jakarta. |