Meniti Angin
To feel and ride the wind…Archive for Review
Menulis Puisi: Gelisah Politik (Sunyi)
R. Valentina[1]
Awas
Hari ini aku panah yang lepas
menerabas jalan-jalan kota
menerbangkan debu-debu jalan
mengacaukan tenang daun-daun
menyambar api yang kusematkan di rambut-rambut kota
dan menari diiringi lagu kebebasan
tuhan, bapak, ibu
-aku ingin membangkang vivian, oktober 1998
Maka Jika “Hari ini … –aku ingin membangkang”, Membangkanglah Saja… .Dan jika esok aku masih ingin membangkang, maka membangkanglah saja… .
Tak bisa dipungkiri, membaca sebagai perempuan adalah kesadaran pembaca bahwa ada perbedaan penting dalam jenis kelamin pada makna dan perebutan makna karya sastra. Tentu saja, setiap orang berhak “membaca” sesuai dengan seleranya sendiri. Saya, dengan pengalaman pribadi dan personalitas saya, boleh jadi disentuh oleh bacaan yang satu dan tidak oleh karya yang lainnya.Atau jikalah satu karya yang dituliskan, menyentuh pengalaman personalitas saya dan seorang kawan misalnya, kedalaman, kesan, gugatan, usikannya, belum tentulah sama.. Saya bisa saja menyukai, menikmati karya yang satu, dan kawan yang lain menyukai yang lainnya.Demikianlah saya menikmati puisi-puisi ini. Kala membacanya, saya teringat atau tepatnya diingatkan tentang sebuah peristiwa yang menyangkut pengalaman saya. Pada bacaan yang satu, dahi saya berkerut, pada bacaan yang lain saya dibuatnya tersipu, sedih, tersenyum, atau bahkan berseru “waduh…” Ada banyak hal yang merona dari tiap kata, susunan kata, bunyi saat saya membacanya, dan tentu saja: pengalaman, hidup, pikiran, dan tubuh saya.Bagi kaum feminis, politik memang sebuah domain yang tidak dikotomis dengan domain “tidak politk”. Salah satu prinsip feminisme adalah “personal is political”. Dalam phrase ini terkandung makna yang sangat luas, diantaranya misalnya bagaimana pengalaman-pengalaman dan suara perempuan hadir dalam masyarakat sebagai sebuah upaya politik mengubah relasi yang tidak adil yang menimpa kaum perempuan. Disinilah kita diyakinkan bahwa pengalaman setiap perempuan memiliki kekhasannya sendiri, personalitasnya sendiri. Pengalaman menstruasi, memliki payudara, vagina, setiap perempuan, adalah pengalamannya yang sangat personal. Siapakah yang paling bisa memahaminya, selain dia sendiri?Bicara, menulis, berekspresi, dengan demikian adalah sebuah kerja politik dalam kerangka mengubah struktur yang menindas menjadi relasi yang adil dan setara bagi perempuan dan laki-laki. Perempuan sudah seharusnya merayakan kemerdekaannya sebagai perempuan… membuka pedih……..luka…tawa…tangis…kesesakan demi kesesakan..kegelisahan…, bahkan “naik turun” pengalamannya….Michel Foucalt, filsuf mazhab poststrukturalis, mengatakan bahwa bahasa merangkum pengetahuan tentang dunia. Maka bicara bahasa tidak dapat dilepaskan dari hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subyek dan berbagai tindakan representasi masyarakat. Disadari atau tidak, dalam masyarakat patriarki, pihak perempuanlah yang mengalami kelangkaan kekuasaan (lack of power). Maka untuk memperbaiki struktur masyarakat yang lebih adil, strategi yang harus ditempuh perempuan adalah bicara. Menurut Foucalt, untuk melawan struktur yang ada tidak adil pada perempuan, perempuan harus menjadi “subjek yang berbicara”yang juga berarti “subyek dari pernyataan”. Seperti yang dikatakan feminis Helen Cixous-feminis Prancis, sangat penting bagi perempuan memecah kebisuan teks dengan melancarkan strategi yaitu bicara dan menulis. (Jurnal HerStory, Edisi Maret 2002, Institut Perempuan)Oleh karenanya, bukanlah hal yang mengherankan jika bahkan dalam “kesederhanaan” (baca: “kesunyiaannya”)nya, apa yang dilakukan perempuan bisa diinterpretasikan sebagai “pembangkangan”, “hari ini”. Dengan kata lain, tak apa jika:
“… .
Dan
biarkan puisi ini terus menerus menuliskan gejolaknya
sampai zaman lupa waktu
lupa…
bahkan sampai aku mati Puisi adalah kehidupanku
puisi itu hidup!” “Akulah Puisi”, lulu, 9 September 1993
Dengan bicara dan menulis, perempuan membangun hidupnya, pengetahuannya, meneguhkan pengalamannya…membangun persaudarian…mempengaruhi dunia…mengubah dunia… membangkang…“… . Des, ceritakan juga gubuk-gubuk tua
Tempat banyak perempuan desa
Dianiaya, dicerca, tak bersuara
Tersiksa batinnya atas nama status istri… aku juga seorang istri… .” “Teruskan Menulismu”,
olin, februari 2006 Dalam kesunyian saya, tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa kerja empat perempuan yang memilih menamakan mereka sebagai “perempuan bukan penyair” ini sebagai sebuah kerja politik yang “sunyi”. Namun dalam kesunyian inilah kemungkinan besar, setidaknya bagi saya, saya diperkenankan mengundang “hidup” dengan suka cita… .: “… .Di mana kamu… datanglah ke rahimku
dengan suka cita “Darah Sialan”, oppie, oktober 2004
Penulis adalah:[1] Feminis, Executive of Board – INSTITUT PEREMPUAN, Dosen Fakultas Hukum Universitas Katholik Parahyangan, banyak menulis di berbagai media massa, termasuk menulis puisi (dapat di search di www.google.com, search: R. Valentina; R. Valentina Sagala; Institut Perempuan). INSTITUT PEREMPUAN: Jl. Dago Pojok No. 85,
Bandung 40135, Telp./Faks. 022-2516378, Email: institut_perempuan@yahoo.com, institutprmpuan@bdg.centrin.net.id
“Tersihir” Biru Hitam Merah Kesumba
Gadis Arivia[2]
Memang benar bahwa keempat perempuan yang menulis antologi puisi “Biru Hitam Merah Kesumba” bukan penyair mungkin lebih tepat dikatakan “penyihir”. Mereka Perempuan penyihir yang pandai menyihir dengan kata-kata. Apa yang hendak mereka sihir? Mereka mengerubuti dunia untuk disihir menjadi biru, hitam, merah dan kesumba.
Mengapa biru?
Sebab biru berbicara soal eksistensi perempuan. Eksistensi perempuan yang “Jangan kasihani aku/Aku baik-baik saja/Bernapas, bermimpi, beradaptasi/Kita jalani minggu, bulan, tahun dengan/Kita maknai dengan cara kita/bukan karena aku perempuan, tapi karena aku/ manusia” (Karena Aku Manusia, Oppie, 1998, hal.8). Perempuan bereksistensi lewat kata-kata karena dunianya harus diciptakan ulang dengan kata-kata baru maka “sambil berbaring menatap langit…apa kabar/ Ken Dedes/ lapisan imajinasiku menerawang sosoknya/ di pojokan komputer mengetik naskahnya/ jiwaku turut gelisah/Des, ceritakan juga gubuk-gubuk tua/Tempat banyak perempuan desa/Dianiaya, dicerca, tak bersuara/Tersiksa batinnya atas nama status istri aku juga/seorang istri…aku juga/seorang istri/Des, jangan tutup file itu/Mari menulis bersama, Des” (Teruskan Menulismu, Olin, 2006, hal.20). Apakah yang hendak ditulis oleh perempuan? Dan mengapa perempuan memilih untuk menulis? Karena kata filsuf Perancis Jacques Derrida[3], perempuan ingin mendekonstruksi realitasnya, menampilkan suara “yang lain” mengenai kehidupan yang dijalani. Bukankah kehidupan selalu memakai frame work laki-laki? Sama pula dengan dunia penyair memakai frame work sastrawan yang sekolahan dengan olahan rasio, kini saatnya memakai frame work istri, frame work manusia perempuan dengan olahan emosi dan mengapa tidak? Dari olahan ini pula makna aku tersingkap; “’ku terpukau pada sebuah keunikan dan keajaiban/kehidupan/sepotong baris-baris puisi/yang membentuk segumpal daging,/seorang aku..(Puisi Ulang Tahun, Lulu, 1996, hal.34). Seperti yang telah dipaparkan oleh keempat “penyihir” di buku bagian tulisan “Dari Kami”, mereka menyebutkan bahwa pekerjaan mereka sebagian besar telah dikapling menjadi ibu rumah tangga. Oleh sebab itu, wajar pengalaman kerumah tanggaan dan dunia kekeluargaan menjadi bagian dari pengalaman yang ingin didekonstruksi. Pengalaman wilayah domestik ini dibuat kaya oleh keempat “penyihir” dengan menampilkan makna baru pernikahan dan anak. Simak puisi berikut ini: “Maka datanglah kamu membawa seikat cinta/ dan tak lupa pepes ikan serta cincin/ yang terbuat dari semesta…/konde kecil dari rambut keriting, kebaya putih/ dari pasar beringharjo,, bibir yang bergincu…/serta wajah bahagia ayah dan ibu/ di hari kau meminang../ini bukan cerita kartun, ini kisah betulan (Lulu Nikah, Oppie, 2006, hal.30). Ekspresi tentang anak juga menjadi passion yang kuat; “Mari sini sayangku, Nak/Genggam jariku lalu mimpi/Sampai pagi kita pergi/mengayuh angin menumpang awan (Anak Sayang, Vivian, 2004, hal.28). Passion perempuan tentang anak, keluarga, suami dan kekasih tidak menghilangkan eksistensinya sebagai perempuan-manusia, tidak pula membuatnya tersesat dan menenggelamkan dirinya. “Malam ini biru/aku mencari diriku/yang hilang dalam bibirmu/dan menemukannya/di pojok-pojok gelap kota/ternyata aku masih bisa pulang (Tersesat, Lulu, 1999, hal.11).
Mengapa hitam? Namun ternyata makna “pulang” dapat membingungkan perempuan. “Mau ke mana kita, entah mau ke mana…/Ini bukan rumahku, di mana rumahku?/Kamu tak harus pulang, kamu tak pernah pulang/Aku tak harus pulang, aku harus pulang/Aku Cuma perlu sendiri, aku perlu masuk/dan berteman dengan jiwaku lagi/Aku perlu kontemplasi, aku pulang ke rumah jiwaku..(Di sini kita, Di mana?, Oppie, 2003, hal.66). Hitam berbicara tentang kegelisahan saat menjadi Absurd (Lulu, 1992, hal.58), saat merasakan perih hidup, Kepedihanmu Milikku Juga (Olin, 2003, hal.52), saat ingin marah namun kepada siapa? Marah dan Hormon (Olin, 2005, hal.61), saat berdamai dengan Perempuan dan Gincu; Dua puluh satu lebih perempuan muda/menyumbat mulut lorong/Dua puluh satu kurang lebih umurnya/kota menawarkan terlalu sedikit dan merampas/terlalu banyak (Vivian, 2006, hal.63). Hitam pula yang mengungkap penderitaan-penderitaan perempuan seperti si Midah; midah temanku terdampar di negeri orang/midah temanku cari makan sebagai pembantu/midah temanku pahlawan devisa negeriku/midah temanku badan kecil, bernyali besar/midah temanku pahlawan devisa negeriku/midah temanku…/masih saja ada anjing-anjing, yang menjilatimu/yang mengonggong parau, yang tak punya malu,/mengerjaimu, menipumu, merampokmu,/memperkosamu, mengarang aturan sialan,/sesampainya di tanah air (Terminal 3, Oppie, 2004, hal.46).
Mengapa merah-kesumba?
Pada awalnya adalah gairah. Gairah perempuan untuk “menyentuh” sekelilingnya bukan dengan logika akan tetapi dengan rasa. Merah-kesumba bercerita tentang cinta. Cinta bagaimanakah yang didambakan perempuan-perempuan 30-an yang hidup di setting urban? Cinta memiliki sejarah yang dulu pernah pula dialami oleh ibu-ibu kita. Mungkin dulu ibu-ibu kita tidak sebegitu beruntung dengan pemberontakan cinta mereka sehingga menjadi otoriter terhadap anak-anak perempuannya; ibumu lari karena tidak mau dikawinkan dengan laki-laki itu/ia lompat ke atas kapal, dan berlayar bersama/sepupunya ke Ambon./Aku lari dari rumahmu, ibu/bukan karena kau mau kawinkan/juga tidak untuk menceraikan diri/dari kita punya keluarga/Tidak usah menangis, Ibu/Mungkin Ibu berharap-harap saya tidak pergi/Tapi tak bisa lagi, Ibu/aku meneruskan ceritamu.(Aku Lari, Vivian, 1998, hal.71). Cinta adalah candu, candu untuk orgasme, bercinta siang malam, sampai habis tenaga, tempat tidur berbau cinta (Vivian, 1997, hal.78). Mampukah perempuan urban merumuskan cinta? Tampaknya sulit; Jatuh cinta memang indah/memelihara cinta itu gerah/putus cinta mau bunuh diri/jadi cinta itu aneh sekali (Mencari Cinta, Olin, 1998, hal.101). Yang pasti, perempuan-perempuan urban berani menggunakan kebebasan berekspresi, dan bukankah kebebasan inilah yang terus menghidupi cinta? Bagaimana dengan seksualitas? Tabu seksualitas diterjang dan dijadikan puisi indah; Terlalu nyaman aku berdiam damai di/ketersembunyianku yang indah…/Merasakan sensasi dan gairah rasa/keperempuananku…/Astaga…aku butuh selimut untuk bersembunyi dari pikiran liarku...(Berubah, Oppie, 1998, hal.86). Namun justeru pemikiran liar ini lah yang membuat mendesak pikiran untuk kritis pada keadaan sekitarnya seperti; Selama empat puluh delapan purnama aku terjaga Dari telanjang hingga kubungkus rapat badan ini,
Bersembunyi di dalamnya menjadi orang lain.
Kau paku aku sebagai permaisurimu
Di ranjang yang sesak…lalu kau pinta restu untuk berbagi, karna tak cukup
nafsu kauumbar pada satu bini
atas nama lelaki-halal kau miliki dua tiga
dan empat…
Musikku terasa sumbang, tarianku gagap dan kaku
Aku menghirup udara dari asap dupa
Yang memabukkan,menembus jantung dan paru-paru..
hatiku bernanah, rahimku berkerak tak bertelur,
tak ada bayi yang sudi singgah
Lalu semua kurangku menjadi pembenaran
langkahmu…(Cerita Teman, Oppie, 2006, hal.97).
Mengapa menulis?
Menulis memberikan jeda antara apa yang dirasakan dan dituangkan. Jeda ini memberikan keleluasaan untuk menumpahkan pengalaman-pengalaman kaya yang “berbeda”. Budaya menulis membutuhkan ekstra enersi untuk merangkaikan realitas dengan perspektifnya sendiri, ini berarti berani untuk mengungkapkan karena bagaimanapun juga jejak-jejak telah ditinggalkan untuk ditelusuri kejujurannya. Budaya menulis sangat berbeda dengan budaya lisan (yang lebih banyak dianut para politisi atau penghotbah), karena kata-kata yang diumbar tidak meninggalkan jejak dan tidak dapat ditelusuri kejujurannya kecuali kalau tertangkap basah.
Selubung budaya lisan sangat melekat, tertutup rapat oleh aturan “moralitas” sedangkan modus puisi dari awal dituntut untuk terbuka dan cenderung untuk memilih pertanggungjawaban diri, tidak ada sandaran justifikasi pada siapa-siapa (apalagi partai politik atau agama tertentu) semua bersandar pada kekuatan diri sendiri. Karena tidak ada justifikasi ini lah, para penyair menurut saya terbuka untuk siapa saja, siapa saja yang tidak ingin terbelenggu dan berupaya “menyihir” dunia menjadi lebih baik. Aku menulisMenyita rasa dan perhatian agar bebas lepas
dalam sebuah dunia jiwa
sebabaku adalah sebuah puisi
selalu bernyanyi melaluinya
meredam
meredam
semua emosi yang harus meloncat keluar
menjadi titik-titik kata
dalam lukisan kalimat
panjaang…
tak pernah mati
(Akulah Puisi, Lulu, 1993, hal.22).
Tulisan dipresentasikan pada: Peluncuran Kumpulan Puisi Perempuan Bukan Penyair, “Biru Hitam Merah Kesumba”, 6 Desember 2006, Pkl. 19.00, Omah Sendok, Jakarta-Selatan.
Penulis adalah: Pengajar filsafat dan kajian feminisme di Fakultas Ilmu Budaya, UI dan pendiri “Jurnal Perempuan”.
Kutipan penulis: Lihat tulisan Jacques Derrida, The End of Book, The Beginning of Writing.