Meniti Angin
To feel and ride the wind…Archive for Uncategorized
Sajak Paling Sedih
Sajak Paling Sedih
link
http://bisikanbusuk.blogspot.com/2009/09/saddest-poem-puedo-escribir-pablo.html
Sajak Pablo Neruda
aku bisa menulis sajak paling sedih sepanjang malam ini
menulis, misalnya: “malam penuh bintang, bintang itu,
biru, bergetar dan menggigil di kejauhan sana.”
angin malam berputar-putar di angkasa dan bernyanyi
aku bisa menulis sajak paling sedih sepanjang malam ini
aku mencintainya, dan sekali waktu ia juga mencintaiku
di malam-malam seperti ini, biasanya aku memeluk tubuhnya,
menciuminya berkali-kali di bawah langit yang luas
dia mencintaiku, dan sekali waktu aku juga mencintainya
bagaimana bisa aku tidak mencintai matanya yang bulat dan indah?
aku bisa menulis sajak paling sedih sepanjang malam ini
membayangkan bahwa aku tak bisa memilikinya
merasakan bahwa aku telah kehilangan dia
mendengarkan malam yang tak terukur, lebih luas dibanding dirinya
dan puisi berguguran ke dalam jiwa, bagai embun jatuh di atas ilalang
apakah suatu petaka bila cintaku tak bisa memilikinya
malam penuh dengan bintang dan ia tak ada di sisiku
itu saja. di kejauhan, seseorang tengah bernyanyi
begitu jauh, dan jiwaku lenyap tanpa dirinya
demi membawanya kembali dekat, mataku pergi mencarinya
hatiku juga pergi mencarinya namun ia tak ada di sini di sisiku
malam yang sama yang memutihkan pepohonan ini
kita, kita ketika itu, kita tak lagi sama seperti dulu
aku tak lagi mencintainya, sungguh, tapi betapa aku mencintainya
suaraku mencari angin demi menyentuh telinganya
orang lain. ia akan menjadi milik orang lain. seperti saat
ia menjadi milik kecupanku
suaranya, tubuhnya yang benderang. matanya yang tak berbatas
aku tak lagi mencintainya, sungguh, tapi mungkin aku mencintainya
cinta begitu singkat dan pelupaan begitu panjang, begitu lama
sebab di malam-malam seperti ini biasanya aku memeluk tubuhnya,
jiwaku lenyap tanpa dirinya
meski ini mungkin jadi luka terakhir yang ia goreskan untukku,
dan ini mungkin jadi puisi terakhir yang kutulis untuknya
-
The Saddest Poem
I can write the saddest poem of all tonight.
Write, for instance: “The night is full of stars,
and the stars, blue, shiver in the distance.”
The night wind whirls in the sky and sings.
I can write the saddest poem of all tonight.
I loved her, and sometimes she loved me too.
On nights like this, I held her in my arms.
I kissed her so many times under the infinite sky.
She loved me, sometimes I loved her.
How could I not have loved her large, still eyes?
I can write the saddest poem of all tonight.
To think I don’t have her. To feel that I’ve lost her.
To hear the immense night, more immense without her.
The night is full of stars and she is not with me.
That’s all. Far away, someone sings. Far away.
My soul is lost without her.
As if to bring her near, my eyes search for her.
My heart searches for her and she is not with me.
The same night that whitens the same trees.
We, we who were, we are the same no longer/
I no longer love her, true, but how much I loved her.
My voice searched the wind to touch her ear.
Someone else’s. She will be someone else’s. As she once
belonged to my kisses.
Her voice, her light body. Her infinite eyes.
I no longer love her, true, but perhaps I love her.
Love is so short and oblivion so long.
Because on nights like this I held her in my arms,
my soul is lost without her.
Although this may be the last pain she causes me,
and this may be the last poem I write for her.
Pablo Neruda
-
Puedo Escribir
Puedo escribir los versos tristes esta noche.
Escribir, por ejemplo: “La noche estrellada,
y tiritan, azules, los astros, a lo lejos.”
El viento de la noche gira en el cielo y canta.
Puedo escribir los versos tristes esta noche.
Yo la quise, y a veces ella tambi me quiso.
En las noches como ‘ta la tuve entre mis brazos.
La bes tantas veces bajo el cielo infinito.
Ella me quiso, a veces you tambi la quer’a.
no haber amado sus grandes ojos fijos.
Puedo escribir los versos tristes esta noche.
Pensar que no la tengo. Sentir que la he perdido.
Oir la noche inmensa, inmensa sin ella.
Y el verso cae al alma como al pasto el roco.
Qu importa que mi amor no pudiera guadarla.
La noche estrellada y ella no conmigo.
Eso es todo. A lo lejos alguien canta. A lo lejos.
Mi alma no se contenta on haberla perdido.
Como para acercarla mi mirada la busca.
Mi corazon la busca, y ella no conmigo.
La misma noche que hace blanquear los mismos boles.
Nosotros, los de entonces, ya no somos los mismos.
Ya no la quiero, es cierto, pero cunto la quise.
Mi voz buscaba el viento para tocar suido.
De otro. Sera de otro. Como antes de mis besos.
Su voz, su cuerpo claro. Sus ojos infinitos.
Ya no la quiero, es cierta, pero tal vez la quiero.
Es tan corto el amor, y es tan largo el olvido.
Porque en noches como ’sta la tuve entre mis brazos,
mi alma no se contenta con haberla perdido.
Aunque’ste sea el’ltimo dolor que ella me causa,
y’stos sean los’ltimos versos que yo le escribo.
Pablo Neruda
ada ide festival sastra indonesia…
hai semua,
ada ide festival sastra indonesia…
ada yang berminat ikutan relawan jadi panitia…dan atau ada ide2 terkait itu..
yuk ngobrolll
tulisan dari Ubud Bali
Kemarin dedaunan pagi di jendela
berhamburan memasuki jendela kamar
tidur. Kupaksa mata ini membuka dan
melihat keluar. Ubud bulan Agustus,
penuh kehijauan dan keharuman kamboja
yang melambai di ketenangannya.
Wangi aroma bercinta masih menempel di
kulit. Parfummu berbekas di lengan dan
seluruh selimut. Kuhirup hadirnya
masuk ke dalam rongga jiwa. Sepi makin
menyelimuti pagi.
3 hari lalu, kita masih berteman dan
menapaki hidup terpisah. Kamu dengan
duniamu dan aku dengan duniaku.
Senyummu yang tulus dan langkahmu yang
penuh percaya diri masih sama, seperti
pertama aku kenal dirimu tahun lalu.
Tapi kemarin, kita berdua berkenalan
lagi, bagai sepasang merpati yang haus
dan dahaga. Tiap sentuhan jemarimu
membuatku melayang dan mengharap bulan
di sebelah rumah. Kita arungi cinta di
atas ranjang Bali yang penuh sesak
dengan hasrat, juga keinginan untuk
kulit saling bertemu.
Kamu bilang, ini seperti dejavu. Aku
cuma tersenyum dan menikmati rona
wajahmu yang memerah setelah
pertempuran kita.
Dedaunan itu sudah berhenti
berkeliaran di kamar. Aku bertanya
pada diri sendiri, ah jatuh cinta
memang indah. Dan Bali adalah tempat
terindah buat jatuh cinta. Yups, hidup
memang aneh. Remembering an old saying,
c’est la vie. Itu lah hidup. Dan
hidupku sekarang sedang berbunga,
dengan cinta padamu, walaupun kamu
milik orang lain.
Aku ingin dirimu, lagi dan lagi.
Ubud, agustus 2007 (sambil belajar bikin cerpen, bikin cermin dulu)
http://olinmonteiro.multiply.com
Menulis untuk menulis
Kenapa menulis?
Karena ingin menulis, karena hasrat itu susah diredamkan. Ingin menulis dan menulis. Di antara keterbatasan dan kepusingan hidup. Menulis adalah hasrat, pencarian diri dan pemenuhan yang tidak terpenuhi. Menulis dan menulis. Menulis untuk menulis. Semoga tangan ini masih bisa menulis esok hari.