Meniti Angin

To feel and ride the wind…

puisi belum pulang

pagi pun tiba,
puisi belum pulang,
ia tergeletak jauh
di negeri pelabuhan,
mengira pintu selalu terbuka,
menyerah pada embun berkilau,
puisi berkejaran fajar semu…

(olin, okt 2009)

Diam itu

Gemericik hujan
Kembali menyusul september
Setelah debu menyusut kantung mata
menyiksa paru sampai kerontang
Menjadikan lelah jiwa mendera

Diam itu
seperti kilatan pisau
Mengiris perlahan diujung
Menjadikan sepi teman sejati
Mengurung menit-menit yang merangkak

Amgin pun bungkam
Tak keluarkan belaian di senja
Yang biasa dulu membelai
Pipi dan rambut penuh rasa
karena diam…lebih sibuk

otw salihara, okt 2009

ketika kamu tidur

ketika kamu tidur
suara-suara itu tetap datang
menegurku
lembut
memaksa…

mari pergi bersamaku
mengejar dewa angin
menghindari badai
melewat awan-awan kelabu
ketika musim hujan tiba

ketika kamu tidur
pelangi membuka jalannya
gerbangnya telah kucapai
wangi
semerbak menuju pusatnya

mari masuk dalam warna
meresapi hari tanpa sepi
tanpa kelabu kemarin
menjadi rona
seperti senja februari dulu

ketika kamu tidur
ku sapu pelan
semua kata-katamu
tentang kita
menutup rembulan oktober

olin, cibubur, 18okt, 2009

menyerah

Ingin menyerah
Ketika detik waktu berbunyi
Memanggil
Memisahkan kita
Mendera-dera ke tulang sumsum
Menjerat ujung jantung
Menjadikan sesak nafas

Ingin pergi saja
Ketika menit kembali
Menjadikan satu kata itu tiba
Di gerbang musim dingin
Menjebak lebah
Yang tadinya berputar
Di taman kering menunggu hujan

Ingin menyerah
Ketika jam menjadi hari
Menusuk hati
Menelusup perlahan
Seperti air di batu
Seperti satu rindu yang terbuang

Olin, September 2009

hanya perlu satu …

Hanya perlu satu kedip
Untuk mengingatmu
Merasakan hadirmu
Menjadi satu nafas denganmu

Hanya perlu satu hembusan nafas
Untuk mengertimu
Menjadikanmu penting
Dalam sepi hidup

Hanya perlu satu kata
Untuk mengungkap rasa itu
Menikmati pekat lara
Menjadi hidup

Olin, September 2009

kemana

Kemana buliran hujan pergi
Tiada yang peduli
Cuma angin menemani
Dingin
Serta uap air
Yang disertai titik penyesalan
Akan waktu yang terus berputar
Terlewat begitu saja
Dengan kata-kata
Yang terkadang percuma
Atau basa basi
Hingga lupa
Untuk mencinta

Olin, September 2009

takut itu kembali

Takut itu kembali mengetuk
Ketika debaran jantung
Kembali menuju kecepatan tinggi
Memburu dan menggebu
Takut itu bukan pertama
Bukan baru lagi
Kembali lagi
Setelah tahun demi tahun
Sisi hati yang karat
Mulai menghalus
Membuka celah
Dan berwarna merah lagi
Menandai hari-hari
Dengan bercak gairahnya
Menanamkan selembar rindu
Yang lama tak terbit
Takut itu
Kembali mengetuk…

Olin, of my heart, Agustus 2009

tak mau menulis kata itu lagi

Tak mau menulis
Surat cinta lagi
Seperti dulu
Seperti ketika masih
Meniup syair
Bergaya melankolis
Tak mau menulis lagi
Harapan mendayu
Ketika tarikan demi tarikan
Alinea demi alinea
Hanya demi cinta
Tak mau menulis
Nada kasih lagi
Agar tak ada
Yang perlu disesali lagi
Tak mau menulis
Kata itu …

Olin, agustus 2009

tak pernah sendirian

Kamu tak sendiri
Kilauan lampu itu
Menyakitkan
Aku mengerti,
Kau ingin sendiri
Tapi kamu tak sendiri,
Aku selalu menantimu
Mendengarmu
Mengasihimu
Menikmati tiap desah lagumu
Tiap lengkingan melodi
Dari decade
Ke decade lain…
Kamu selalu menemani
Melipur lara
Menyejukkan hati
Diantara kegundahan
Berkali-kali disakiti
Kamu selalu ada.
Menjadi pepulih
Layaknya air terjun
Yang tak hentinya menjadikan
Suara keras yang berdebur
Kamu tak pernah sendiri…
Takkan pernah

Olin, to MJ August 2009 (happy birthday mike)

sekilas

Sudah ribuan hari
Berlalu tanpa kata
Diam
Tentu bukan prahara
Banyak hal tak perlu terungkap
Begitu pepatahnya
Banyak hal memang tersimpan
Didasar laut penantian
Akan hari yang tiba
Dimana rasa
Bersatu raga
Bersatu dalam jiwa
Memadu cita yang dulu pernah hampir
Terungkap dari pandangan matamu
Sekilas
Kata itu terungkap
Walau sekedar

Juli 2009

« Newer entries · Older entries »